Preloader
PGI.OR.ID

Alamat

Jalan Salemba Raya No. 10
Jakarta Pusat (10430)

Hotline

021-3150451

021-3150455

021-3908118-20

Alamat Email

mailto:info@pgi.or.id

Bangun Perdamaian lewat Ruang Digital, Pemuda Gereja Papua Didorong Perkuat Literasi dan Advokasi

Thumbnail
Author

admin

15 Sep 2026 19:47

Share:

JAYAPURA, PGI.OR.ID — Ruang digital dinilai dapat menjadi arena strategis bagi pemuda gereja di Tanah Papua untuk menyuarakan keadilan, kebenaran, kemanusiaan, dan perdamaian. Dengan literasi digital yang kuat dan kerja kolaboratif, pemuda didorong tidak sekadar menjadi pengguna media sosial, tetapi ikut membentuk narasi publik dan mendorong perubahan.

Hal tersebut mengemuka dalam sesi panel Lokakarya “Dialog dan Media untuk Keadilan dan Perdamaian di Papua”, yang dilaksanakan di Jayapura, 14-15 September 2026.

Dalam sesi diskusi panel mengawali lokakarya, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Darwin Darmawan, mengatakan gereja memiliki panggilan untuk hadir di tengah berbagai persoalan masyarakat dengan membuka ruang aman bagi suara-suara yang selama ini kurang terdengar.

“Gereja dipanggil untuk mendengar, berdialog, merawat kehidupan, memperjuangkan keadilan, dan membangun perdamaian,” kata Darwin saat menyampaikan materi “Gereja dan Advokasi: Ruang Aman untuk Bersuara.” Menurutnya, advokasi bukan kegiatan tambahan bagi gereja, melainkan bagian dari panggilan gereja. Karena itu, gereja tidak cukup hanya menunjukkan keprihatinan, tetapi perlu mendengar, memahami persoalan, menyuarakan aspirasi, dan mendorong perubahan.

Namun, gereja juga diingatkan agar tidak mengambil alih suara masyarakat yang didampingi. “Suara siapa yang hari ini belum cukup didengar?” ujarnya.

Media Digital Menjadi Ruang Kesaksian

Pdt. Darwin Darmawan melihat perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi sekaligus membuka ruang baru bagi gereja untuk melakukan advokasi.

Orang muda, katanya, memiliki posisi strategis karena tidak hanya menjadi pengguna media, tetapi juga dapat berperan sebagai pembentuk narasi, pencipta konten, jurnalis warga, penggerak kampanye, dan agen perdamaian.

“Bukan hanya berbicara tentang Papua, tetapi mendengar Papua,” katanya.

Karena itu, ia mengingatkan agar penggunaan media untuk advokasi tidak terjebak pada upaya mengejar viralitas. Konten yang dibuat perlu berangkat dari fakta, pengalaman manusia, dan pemahaman terhadap konteks.

Ia mengajak pemuda gereja mempertimbangkan lima pertanyaan etis sebelum membuat ataupun membagikan konten: apakah informasi tersebut benar, adil, aman, manusiawi, dan damai. Ia juga mengingatkan agar penderitaan masyarakat tidak dieksploitasi semata-mata demi mendapatkan engagement di media sosial.

Literasi Digital Harus Berjalan Bersama Kebebasan Bersuara

Relawan TIK Komdigi Papua, Aldo, menilai ruang digital yang aman dan nyaman diperlukan agar pemuda dapat menyampaikan pengalaman, aspirasi, serta gagasan tanpa memperkeruh persoalan yang ada.

“Ruang aman dan nyaman bersuara itu penting, supaya teman-teman pemuda tidak hanya menjadi pengguna media, tetapi juga bisa menggunakan ruang digital untuk menyampaikan pengalaman, aspirasi, dan gagasan yang membangun perdamaian,” ujarnya.

Menurut Aldo, kebebasan berekspresi di ruang digital harus disertai tanggung jawab. Pemuda perlu memiliki kemampuan untuk memeriksa informasi, memahami konteks, membedakan fakta dan disinformasi, serta memahami konsekuensi dari konten yang mereka sebarkan. Ia juga mendorong pemuda gereja memahami regulasi yang berkaitan dengan aktivitas digital, termasuk Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi, regulasi Informasi dan Transaksi Elektronik, serta PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Pelindungan Anak di Ruang Digital.

Untuk memperkuat kapasitas tersebut, Aldo menawarkan lima bentuk kolaborasi, yakni  Sekolah Literasi Digital Gereja, Ruang Aman Bersuara, Rumah Informasi dan Verifikasi, Media Gereja untuk Perdamaian, serta Kader Digital Perdamaian. “Kerja-kerja membangun perdamaian di Tanah Papua bukan pekerjaan masing-masing kelompok, tetapi pekerjaan kolaborasi,” katanya.

Tidak Harus Dimulai dari Akun Besar

Ajakan untuk kolaborasi juga muncul dari Direktur Yakoma PGI, Elly Diah Praptanti, saat menyampaikan presentasi tentang Strategi Kampanye Bersama. Sambil memperkenalkan karakter publikasi PGI yang bersifat oikoumenis, relevan/konteksual, kenabian, transformatif, dan inklusif, ia menekankan bahwa perjuangan melalui media digital tidak harus dimulai dari akun dengan jumlah pengikut yang besar. Menurutnya, kekuatan advokasi justru dapat muncul ketika banyak orang menyuarakan isu dan pesan yang sama secara bersama-sama.

“Untuk mengkampanyekan keadilan, kebenaran, perdamaian, dan kemanusiaan tidak harus dimulai dari memiliki akun yang besar,” ujar Elly.

Ia juga mengatakan, ketika banyak orang secara serentak mengangkat isu yang sama, pesan tersebut dapat memperoleh perhatian publik yang lebih luas, menggugah para pemangku kebijakan,  dan menjadi kekuatan untuk mendorong perubahan. Karena itu, ia mendorong orang muda untuk membangun kolaborasi dan jejaring dengan gereja-gereja, lembaga-lembaga, tokoh-tokoh, dan PGI untuk mengangkat berbagai persoalan yang menjadi keprihatinan bersama.

“Jika orang-orang muda bekerja sama dan berjejaring dengan gereja-gereja, lembaga-lembaga, tokoh-tokoh, dan dengan PGI, maka hal-hal yang menjadi keprihatinan bersama bisa diangkat dan mendapat perhatian publik,” katanya.

Ia menilai kekuatan utama orang muda terletak pada kemampuan mereka beradaptasi dengan teknologi. Mereka relatif menguasai berbagai aplikasi dan platform media sosial, mampu  memproduksi konten dengan cepat, serta memiliki kreativitas yang tinggi.

“Kelebihan yang dimiliki orang muda bisa dimanfaatkan dengan seoptimal mungkin untuk mendatangkan perubahan ke arah yang lebih baik pada situasi-situasi yang membutuhkan perhatian, perubahan, dan harus diperjuangkan,” ujar Elly.

Dengan kekuatan tersebut, ruang digital diharapkan tidak berhenti menjadi tempat berbagi informasi, tetapi berkembang menjadi ruang perjumpaan, kesaksian, advokasi, dan solidaritas. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah nilai-nilai kekristenan, data yang valid, dan etika publikasi.

Para peserta selanjutnya akan mendapatkan materi tentang produksi video dengan HP. Workshop ini didampingi oleh Ari Trismana, dari Watchdog, dimulai dari menentukan ide dan pesan utama, kemudian menyiapkan naskah singkat serta rekam gambar dengan memperhatikan pencahayaan, suara, dan komposisi, lalu edit video sebelum dipublikasikan. (NA)

 

Berikan Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublish, form yang wajib diisi *

Komentar *
Nama Lengkap *
Email *
Website
(optional)

Berita & Peristiwa
Bangun Perdamaian lewat Ruang Digital, Pemuda Gereja Papua Didorong Pe...
by admin 15 Sep 2026 19:47

JAYAPURA, PGI.OR.ID — Ruang digital dinilai dapat menjadi arena strategis bagi pemuda gereja di Tanah Papua ...

Sekjen LWF Apresiasi Kerja-kerja Advokasi yang Dilakukan PGI
by admin 15 Sep 2026 16:18

JAKARTA,PGI.OR.ID-Sekretaris Jenderal Lutheran World Federation (LWF) Pdt. Dr. Anne Burghardt, menyampaikan ap...

PGI Dorong Pemuda Gereja di Papua Gunakan Media untuk Suarakan Keadi...
by admin 15 Sep 2026 08:17

JAYAPURA,PGI.OR.ID-Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mendorong pemuda gereja di Tanah Papua untuk s...