|

Iman Tanpa Perbuatan adalah Mati

Renungan Minggu XV Setelah Pentakosta

Bacaan Alkitab : Amsal 22:1-2,8-9,22-23; Mazmur 146; Yakobus 2:1-10, (11-13), 14-17; Markus 7:24-37

Dalam banyak hal kita tetap dengan jujur harus mengatakan bahwa pemberlakuan yang setara bagi sesama manusia belum terwujud pun dalam gereja. Hal sederhana dan pemandangan yang biasa jika kita menemukan masih banyak majelis yang akan berdiri lalu sibuk mencari tempat duduk yang kosong untuk pejabat atau orang “penting” yang terlambat datang ke gereja meskipun ibadah sudah dimulai. Ini akan kontras jika ada seorang ibu yang sudah tua berpakaian seadanya dan berjalan perlahan, matanya melihat ke kiri dan ke kanan mencari-cari tempat yang kosong untuk ia duduk. Orang bukannya memberi tempat malah akan menggerutu dan menganggap sebagai pengganggu jalannya ibadah. Celakanya ini dianggap sebagai sesuatu yang biasa dalam gereja.

Surat Yakobus merupakan salah satu surat yang sangat unik, sederhana karena hanya terdiri dari 5 pasal dan kontroversial dengan bahasa yang praktis, tetapi juga sulit dipahami. Salah satu tema dari surat ini, yaitu berisikan tentang peringatan untuk tidak membeda-bedakan orang. Rupanya ada ketidakharmonisan dalam jemaat, sehingga mengganggu relasi antara sesama warga jemaat. Sebagai pemimpin jemaat di Yerusalem, Yakobus merasa bertanggung jawab untuk memberikan nasihat dan arahan kepada jemaatnya yang berlatar belakang Yahudi. Penekanan utama nasihat dan pengajaran Yakobus adalah perbuatan baik karena orang-orang yang dipimpinnya ternyata tidak mengalami perkembangan atau pertumbuhan dalam imannya. Mereka menyatakan diri beriman tetapi tidak menyatakan atau mewujudkan iman itu, sehingga iman mereka tidak berbuah. Salah satu pintu masuk dalam mewujudkan iman yang ditawarkan Yakobus adalah memandang semua orang dengan kebenaran dan hati Allah.

Pengakuan sebagai orang beriman adalah akta yang tak terbantahkan dalam diskursus keagamaan. Sebab jika tidak demikian maka bobot keagamaan seseorang akan dipertanyakan. Pertanyaan lanjut adalah apakah semua orang beragama itu beriman? Ataukah orang yang beriman itu beragama? Yakobus mengatakan: “Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati.” Karena iman menuntut pembuktian bukan sekedar dogma, kepercayaan, tetapi melampaui
doktrin-doktrin keagamaan tersebut. Karena itu Yakobus mengguggat cara beriman jemaatnya yang masih terpusat pada ajaran agama, tetapi tidak menghidupi ajaran itu dalam tindakan nyata. Hal yang sangat sederhana, yaitu tidak membeda-bedakan orang, memandang semua orang dengan kebenaran dan hati Allah. Memandang yang dimaksudkan di sini bukan sekedar melihat atau mengarahkan pandangan kita kepada orang tersebut, sehingga itu dirasa cukup
tetapi memandang dengan kebenaran berimplikasi pada sikap dan bahasa tubuh yang menunjukkan penerimaan sepenuhnya akan kehadiran orang lain. Sebuah persekutuan akan menjadi sehat dan bertumbuh jika semua orang menunjukkan sikap penerimaan yang terbuka dan memotivasi sebagaimana Allah menerima semua orang dengan tanpa memandang muka. Memang disadari konstruksi diri seseorang tidak lepas dari pengaruh-pengaruh yang ada di sekitarnya dan itu akan sangat mempengaruhi pikirannya, pemahamannya dan perilakunya. Karena itu konstruksi diri ini harus diletakkan pada koridor kesadaran bahwa diri (self) adalah bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan proses transformasi kehidupan yang sedang berjalan, sehingga pertanyaan “Siapa saya?“ menjadi
sesuatu yang amat sangat penting. Identifikasi diri ini akan sangat membantu dalam menuntun perilaku dan perspektif terhadap sesama baik itu manusia, hewan dan alam sekitar. Ini akan mengubah pusat dari diri kepada orang lain, kepada manusia lain, kepada entitas lain, misalnya alam dan makhluk lainnya.

Membangun citra kehidupan yang meneladani Kristus dalam persekutuan berjemaat adalah visi yang terus berproses bersama kehidupan semesta di antara desakan perkembangan zaman dan denyut pengetahuan yang menantang
naluri kemanusiaan. Iman tidak boleh menjadi substansi yang statis, tidak bergerak maju. Iman harus berproses dan dibentuk dalam siklus kehidupan yang mengarah pada kepenuhan bersama Kristus karena itu iman tidak boleh
stagnan, bahkan mati atau dimatikan tetapi harus bergerak, hidup, dihidupi dan menghidupi seluruh kerja Kristiani semua orang yang mengaku beriman kepada Sumber Kehidupan itu. Jika tidak demikian maka sia-sialah kepercayaan itu. (RL)