|

Hikmat Allah vs Hikmat Dunia

BAKI ~ 20 September 2015 | Renungan Minggu XVII Setelah Pentakosta

Bacaan Alkitab: Amsal 31:10-31 Mazmuzr 54 Yakobus 3:13-4:3,7,8a Markus 9:30-37

Penulis surat ini adalah seorang dari murid Yesus dan juga saudara kandung Yesus, salah seorang pemimpin gereja mula-mula yang menjadi percaya setelah Yesus menampakkan diri kepadanya (I Kor. 15:7). Ia juga adalah salah seorang dari para rasul yang bersama-sama dengan Petrus berjuang agar kebenaran Injil bisa diwartakan (Kis. 12:17). Yakobus memiliki maksud yang sama dengan para rasul lain di zamannya yaitu bagaimana mengomunikasikan berita keselamatan kepada mereka yang tercerai-berai sesudah peristiwaperistiwa penganiayaan yang menimpa para pengikut Kristus terutama sesudah pembunuhan Stefanus (Kis. 8:1b,4).

Saya mendapati bahwa sebuah model pertanyaan yang menantang telah menjadi ciri dari pendidikan Kristen sejak mula-mula. Kali ini, Yakobus menantang umat Kristen asal Yahudi dengan pertanyaan: “Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Hal ini muncul dimungkinkan karena kondisi ini yang dihadapi oleh jemaat dalam masa-masa pertumbuhan mereka, yaitu berhadapan dengan orang-orang yang menginginkan sebuah status – menjadi orang yang disebut berhikmat. Tidak dapat dipungkiri bahwa dunia juga mengenal kebijaksanaan kuno orang-orang Yahudi dari berbagai kitab, pada masa di mana Yakobus hidup pengaruhnya sangat kuat dalam budaya masyarakatnya. Namun, yang hendak disampaikan oleh Yakobus jelas sejak ayat 13, yaitu bagaimana hikmat atau kebijaksanaan itu muncul dalam bentuk tindakan bukan hanya kata-kata “yang lahir dari kelemahlembutan.” Dengan memberi isi baru pada hikmat yang dia hendak ajarkan yaitu “hikmat yang dari atas,” Yakobus hendak mengajarkan jemaat pada saat itu untuk lebih mengenal Allah dan dekat kepada-Nya.

Untuk itu Yakobus memberikan penggambaran – bukan definisi – tentang apa itu hikmat yang dari atas. Petama, ia memberi pertentangan, yaitu dengan menggambarkan hikmat yang dari dunia: iri hati, mementingkan diri sendiri, memegahkan diri, dan berdusta melawan kebenaran. Cara penggambaran seperti ini saya yakin tepat untuk saat itu di mana orang cenderung untuk membedakan sebuah dunia yang terpisah menjadi dua bagian yang saling bertentangan. Kedua, Yakobus memberikan penggambaran tentang apa itu hikmat yang dari atas dengan mengajukan tujuh ciri atau sifat: murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasih, tidak memihak, dan tidak munafik. Inilah konsep tentang hikmat yang dari Allah yang sudah dipelajari dan dialami Yakobus selama masa Renungan Minggu XVII Setelah Pentakosta 20 September 2015 Bacaan Alkitab : Amsal 31:10-31 Mazmuzr 54 Yakobus 3:13-4:3,7,8a Markus 9:30-37 Hikmat Allah vs Hikmat Dunia 221 hidupnya yang dia inginkan untuk dipelihara juga oleh jemaat mula-mula. Di sini terkandung juga kerendahan hati, yaitu tunduk kepada Allah dan mendekat kepada-Nya. Untuk mampu melakukan semua itu Yakobus mengajak jemaat untuk berdoa kepada Allah.

Yakobus hendak menyimpulkan bahwa hikmat seharusnya mengantarkan orang pada sifat rendah hati dalam segala hal. Kecenderungan orang beragama yang menyatakan dirinya lebih berhikmat dari yang lain karena ketaatan mereka dalam beribadah tentu tidak masuk dalam kategori berhikmat seperti yang diutarakan Yakobus. Sebagai seorang yang pernah begitu dekat dengan Yesus yang kerendahan hatinya kepada Allah bahkan mengantar Dia pada penderitaan namun pada akhirnya kemenangan, Yakobus menebarkan benih iman yang menunjuk pada teladan Yesus. Ayat 10 mengisyaratkan hal itu “ Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.” Kristus sebagai teladan telah begitu direndahkan hingga ke dunia orang mati, namun hal itu disadari dan diterima-Nya sebagai bagian dari hidup-Nya sebagai Anak Allah. Namun Ia kemudian ditinggikan oleh Allah lewat kebangkitan dan kenaikan-Nya. Menjadi berhikmat dan rendah hati itulah yang sejak dini ditanamkan para rasul pada zaman gereja mula-mula untuk menjadi sebuah praktik hidup dan dasar pertumbuhan gereja, sehingga kita kemudian mewarisi hal itu. Pekerjaan itu tidak hanya berhenti pada para penulis yang disaksikan Alkitab, dengan terus mempelajari dan memahami pesan para rasul sebagai gereja yang hidup di masa kini, tugas kita adalah mempraktikkan apa yang mereka konsepkan sesuai dengan konteks hidup manusia masa kini. TUHAN kiranya memberkati kita dengan hikmat yang dari pada-Nya. (EK)