Hiduplah Sebagai Pemenang Melawan Dosa

Bagi orang beriman, selalu ada godaan untuk hidup seperti binatang amphibi yang bisa hidup di dua alam, di air dan di darat; orang-orang yang bisa hidup di dalam terang, sekaligus di dalam gelap. Pada hari Minggu, sikapnya bisa sangat berbeda dengan sikap hidupnya pada hari Senin sampai Sabtu. Ia bisa begitu rajin berdoa, alim dan suci saat beribadah di gereja, tetapi ketika kembali ke rumah dan pekerjaannya sehari-hari, ia menjadi sangat kasar, egois, serakah dan tak peduli kepada sesama. Ini timbul karena kesalahpahaman yang dianut banyak orang Kristen, bahwa kalaupun kita berdosa pada kehidupan sehari-hari, nanti hari Minggu bisa memohon pengampunan dosa dari Tuhan. Sebab kasih karunia-Nya lebih besar dari dosa-dosa kita. Dosa membuat kasih karunia akan terus-menerus tercurah bagi kita.

Paulus mengantisipasi kesalahkaprahan ini, dengan pertanyaan retoris, bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya kasih karunia makin bertambah? Maka yang pasti jawabnya ”tidak”. Bagaimana mungkin seorang anak dikatakan mengabdi pada orang tuanya tetapi berpikir, dan terus-menerus melawan karena tahu bahwa orang tuanya akan memaafkannya? Ini pemikiran sesat. Saat kita telah dibenarkan Tuhan, maka hidup menjadi baru dan dosa sudah lenyap (ay. 4, 11). Anugerah bukan saja memberi kan pengampunan dosa, tetapi juga menyebabkan tubuh dosa kita hilang kuasanya, kita lepas dari dosa (ay. 6-7). Pertama-tama, ingatlah bahwa Yesus sudah mati bagi kita. Dia sudah mengalahkan kuasa dosa (ay. 10).

Karena itu, manusia lama kita, tubuh dosa kita telah ikut pula disalibkan sehingga dosa tidak berkuasa lagi atas kita (ay. 6). Maka kita harus memandang diri kita telah mati bagi dosa (ay. 11a). Artinya kita harus mematikan keinginan berdosa kita. Jangan biarkan anggota tubuh kita dipakai untuk berbuat dosa lagi (ay. 13a). Lahir baru membuat dosa tidak lagi berkuasa atas kita karena Kristus telah mati menebus kita. Kita telah bebas dari pengaruh dosa karena kesatuan kita dengan Kristus. Lalu, bagaimana mungkin orang yang telah mati bagi dosa kemudian hidup dalam dosa (ay. 2)? Yang mati dan bangkit bersama Kristus sepantasnya hidup bagi-Nya. Kita harus tunduk pada Kristus karena Dialah yang sekarang menjadi Tuhan kita. Ini bukan pilihan, melainkan tugas yang harus dilakukan setiap orang Kristen.

Dalam nas ini hendak dijelaskan bahwa salah satu arti baptisan yang Paulus ajarkan adalah mati dan bangkit bersama Yesus (ay. 3-4). Saat kita ikut dalam kematian Yesus berarti semua dosa telah ditanggalkan dan dimatikan di salib Kristus (ay. 6-7) untuk menuju pada satu kehidupan yang baru di dalam Dia, yaitu hidup kekal melalui kebangkitan-Nya (ay. 8-11). Kristus mati satu kali untuk mematikan dosa selama-lamanya sehingga Ia hidup selama-lamanya juga bagi Allah. Itu berarti kemenangan-Nya tuntas atas dosa dan maut. Kita yang percaya kepada Yesus, sudah dibebaskan dari dosa dan hukumannya, dan memiliki hidup kekal. I ni berarti juga bahwa baptisan cukup satu kali, dan tidak perlu diulang lagi.

Paulus memberi nasihat agar kita memberi diri sepenuhnya kepada Allah. Artinya menyerahkan hidup, waktu, tenaga, pikiran, talenta, dan tubuh kita sepenuhnya untuk menyenangkan Tuhan (ay. 13b). Kita tidak harus lagi menyerahkan angggota tubuh kita dikendalikan dan dipakai Iblis, dan dikuasai dan dikontrol keinginan daging kita sebagai alat kejahatan (ay. 13a). Kita hanya boleh punya satu tuan, yaitu Allah yang sudah menebus kita, dan bukan Iblis yang sudah kalah! Ingat, pikirkan, dan resapi bahwa kita sudah mati bersama Kristus. KematianNya telah menghancurkan kuasa dosa dalam kehidupan kita. Berjuang dan bergeraklah ke depan, songsong masa depan dengan bertindak, berpikir, dan berbuat sebagai seorang pemenang yang menaklukkan dosa. (EG)